Karena Semua Dimulai Dengan Dibaca

BACA

Tuesday, 2 June 2015

Terbukanya sang mata hati


            Sebuah percakapan sederhana dengan teman seperjuangan mengantarkan semangatku untuk mencoba menemukan hal baru. Ini bukan tentang cerpen ataupun kisah drama, hanya sebuah untaian kata yang menumpah ruahkan secuil pengalaman mengesankan.
Panggil saja aku si Geminie Purple, aku akan mencoba membagi sesuatu yang bergemuruh dalam benakku (sebenarnya sih mumpung masih hangat dipikiran, jadi daripada hangus terhembus angin bergegas aku ketik saja. Hihihi).
Sebelum aku masuk di Universitas Pamulang dan mengenal teman-temanku yang kini berada satu fakultas denganku, yaitu fakultas Sastra Indonesia, bahkan setelah aku menjadi seorang mahasiswi pun aku selalu memandang sang “pengamen jalanan”, apalagi jika ada yang membawa nama dengan tujuan beramal, pastilah pikiran negatif berlarian dan mengejek dalam pikiran, hingga terkadang rasa enggan dan malas untuk memberi pun muncul. Mungkin diantara mereka memang benar-benar untuk disumbangkan, namun ada jua yang hanya mengatasnamakan saja dengan tujuan untuk dimakan sendiri bersama kelompoknya.
            Hingga pada akhirnya sebuah percakapan itu terjangkau oleh telingaku. Saat itu salah satu temanku berbicara, panggil saja ia Ucok, keturunan Nias. Seseorang yang humoris, sering kali menjadi sumber keceriaan ketika aku dan teman-teman sedang berkumpul. Dia bercerita tentang Keluarga Anak Langit. Keluarga yang terdiri dari anak-anak yang harus putus sekolah karena ketidakmampuan dan krisis ekonomi yang buruk. Ucok menjelaskan bagaiman keadaan mereka, dibantu oleh Roni. Sosok yang menurutku dewasa dan lihai dalam mengajari berbagai karya sastra, seperti Drama, Theater dan lainnya. Mereka pun menyampaikan tentang rencana untuk membantu Keluarga Anak Langit tersebut, dengan berbagai prosedur dan program yang sudah dibicarakan terlebih dahulu dengan Iqbal orang yang sering menjadi bulan-bulanan teman-temanku untuk mengejeknya (dia hatinya seperti jelly, jadi ucapan teman-teman yang selalu mengejeknya selalu membal. Hehehhe), ada juga Reza atau biasa disebut Oblak. Dia teman lelakiku yang paling muda, eits tapi jangan salah untuk pengalaman sepertinya dia tidak diragukan lagi terlebih untuk menjamah setiap gunung yang ada di Indonesia, bisa jadi dia nomor satu untuk pengalaman ini, dan yang terakhir yang membantu menyusun rencana itu ada Indro, orangnya mungil (tapi bukan si unyil ya, hehehheeh. Piss ndro). Meskipun mungil, tapi dalam hal merayu dan mengeluarkan jurus gombalnya untuk wanita dia jagonya, bisa klepek-klepek tuh dibuatnya, hahahhhaaha.
            Nah, sebagian dari rencana mereka untuk membantu Keluarga Anak Langit itu dengan cara membeli kaos seharga 70 ribu, dengan begitu kita berarti sudah menyumbang 1 seragam sekolah untuk mereka. Dan rencana lainnya yaitu dengan turun ke jalanan untuk “mengamen”.
Dihari pertama mereka mengamen aku tidak ikut, karena ada suatu masalah. Dan ketika kesempatan dihari kedua itu ada aku memutuskan untuk ikut, meskipun pada awalnya harus mengalami pergulatan batin dalam diriku ini yang entah mengapa seolah menimbulkan bisikan seperti ini  “sudah tidak perlu mengamen, untuk apa? nanti lelah”.
Rasanya menyebalkan memang ketika dalam hati kita sering kali ada bisikan-bisikan semacam itu, tapi aku selalu percaya bahwa jika aku berkata pada hati dan pikiranku bahwa AKU BISA, sudah pasti aku bisa, bukankah kesuksesan yang tercapai itu atas sebuah keyakinan yang kuat?.
Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk ikut bersama seseorang, dia calon teman hidupku (lebay sedikit tak apalah ya. Hhi) dan juga aku pergi bersama Indro dan satu temanku lagi Alfi (katanya sih si Indro lagi usaha. Cieee, ahahahaha), si Alfi ini yang lagi-lagi menurutku cewek tercantik di kelas (langsung terbang deh itu hidung si Alfi. Hahahhaha)..
            Dan ketika kami sampai ditempat, ternyata sudah ada Ucok, dan tak lama Iqbal datang. Langsung lah Ucok membagi tugas untuk terjun ke jalanan itu. Sungguh rasa deg-degan dan takut langsung menyerbu begitu saja, dan lagi-lagi bisikan-bisiskan menyebalkan itu kembali mengiang, namun dengan segala keyakianan dan kemantapan hati lenyap sudah bisikan itu tergantikan oleh rasa semangat yang berkobar tiada bandingan, hahahaha.
Dan kalian tahu kesan pertama yang aku dapatkan? Sungguh perasaan yang tak pernah aku duga sebelumnya, rasa lepas, rasa bebas, rasa rendah diri, rasa bangga dan segalanya berkecamuk dan melebur jadi satu. Aku memang sering bertemu dengan berbagai macam karakter manusia. Namun, menghadapinya di tengah-tengah jalanan langsung baru kali ini, dan itu sengguh luar biasa.
Dan satu hal yang paling berharga, pengalaman itu membuat mata hatiku terbuka lebar-lebar, yang dulu aku selalu berpikir negatif  tentang mereka yang mengatasnamakan anak-anak yang kurang mampu menjelma menjadi rasa penyesalan yang tiada terkira, dan sejak saat ini aku bertekad tidak akan ada pandangan sebelah mata untuk mereka “Pengamen Jalanan”, dan tidak akan lagi enggan untuk menyisihkan sebagian rejekiku untuk mereka yang memang ingin membantu yang kurang mampu.
            Karena itulah tulisan ini tercipta, semoga tidak hanya aku yang kini merasakan hidayah dari terbukanya mata hatiku yang lama tertutup kabut negatif, kalian yang membaca pun semoga sepertiku. Bahkan semoga tergerak untuk melakukan hal yang sama dengan membantu mereka-mereka yang menjadi jembatan untuk anak-anak yang kurang mampu, sehingga biaya bukan lagi menjadi penghalang untuk mereka menggapai mimpi , cita-cita, dan harapan.






Salam Sastra, Geminie Purple. ^,^.




2 comments:

  1. Bagus ceritanya. Tingkatin lagi yaa struktur dan tanda bacanyaa ;)
    Get success, guys!

    ReplyDelete