Pembunuhnya Masih Berkeliaran
Haur Gajrug, Cipanas, 2 November 2025
Aku berdiri di atas meja kayu yang dingin. Cahayanya redup, lampu di langit-langit sudah lama padam. Aku gelas bening berisi sisa kopi hitam menjadi saksi bisu malam terakhir di warung kecil milik Sarnab dan Hano.
Aromaku sudah berubah: pahit basi bercampur sedikit anyir, seperti udara malam itu.
Semuanya tampak biasa sebelum pukul sembilan.
Sarnab tertawa keras, suaranya menggetarkan permukaanku. Hona menyusul, menepuk bahunya sambil menegur, “Sudah, jangan keras-keras, nanti tetangga pikir masih buka.”
Tapi mereka berdua selalu begitu suka melayani siapa saja yang datang, bahkan ketika jam sudah larut.
Aku masih hangat waktu tangan asing itu datang. Bukan tangan Hona, bukan pula tangan Barnas. Tangan itu kasar, gemetar, tapi akrab. Ia menaruh uang di meja, menepuk papan keras-keras.
Aku mendengar suara itu suara yang mencoba ramah tapi menyimpan ketegangan, seperti tali yang hampir putus.
Setelah itu, tak ada tawa lagi.
Hanya bisikan panjang, lalu bentakan. Lalu… suara kursi terjatuh.
Aku terguncang, sedikit tumpah, meninggalkan noda hitam di permukaan meja.
Kemudian suara itu suara yang hanya terdengar sekali, cepat, tapi cukup membuat udara berhenti: “Aduh, jangan!”
Lalu hening.
Aku ingin pecah malam itu. Tapi aku hanya bisa berdiri, menatap kegelapan, mendengar langkah terburu-buru, dan bau besi yang semakin kuat di udara.
Pagi datang dengan ketukan keras di pintu.
Aku masih di tempat yang sama. Kopiku telah dingin, mengental seperti darah.
Ketika pintu didobrak, cahaya pagi menampar wajah Sarnab yang kini diam. Hona bersandar di dinding, tangannya pernah menggapai udara, seolah mencari pegangan yang tak pernah datang.
Orang-orang berteriak, beberapa menutup mata. Seorang laki-laki muda hampir menjatuhkanku ketika berlari keluar. Aku ingin menjerit, ingin bilang bahwa aku tahu siapa yang datang malam itu bahwa aku mendengar napasnya, melihat tangannya yang menggigil. Tapi siapa yang mau percaya pada gelas kotor?
Aku hanya dibiarkan di situ, di antara darah yang sudah mengering. Polisi datang, mengambil foto, mencatat hal-hal kecil: posisi tubuh, arah darah, benda-benda di meja. Tapi tak ada yang melihatku lebih dari sekadar barang kotor yang harus disingkirkan.
Mereka memindahkan kursi, mengambil pisau, mengangkat piring, tapi aku dibiarkan tetap di situ beku, setengah penuh, menatap dinding yang pernah memantulkan tawa.
Hari berganti minggu.
Warung ini kini ditutup dengan garis kuning. Tak ada lagi yang datang. Aku perlahan ditumbuhi debu, dan di dalamku tumbuh lapisan tipis jamur, seperti kabut kecil yang tak mau pergi.
Terkadang, angin membawa suara orang-orang dari luar pagar.
“Katanya bukan perampokan.”
“Barang enggak ada yang hilang.”
“Kayaknya orang dekat.”
Orang dekat.
Aku ingin tertawa, kalau saja aku bisa. Karena aku tahu betapa dekatnya tangan itu denganku malam itu begitu dekat hingga aku masih menyimpan sidik jarinya di pinggir bibirku. Tapi waktu, debu, dan lupa perlahan menghapus segalanya.
Suatu sore, garis polisi itu terlepas diterpa angin. Seorang anak kecil berlari ke dalam, melihat-lihat, lalu pergi lagi. Ia sempat menyentuhku.
“Mama, ada gelasnya masih di sini!” katanya dari luar.
Suara ibunya menegur, “Jangan main ke situ! Pembunuhnya belum ketemu.”
Anak itu tertawa kecil, lalu pergi.
Aku kembali sendiri.
Malam turun. Di luar, jangkrik bersahutan seperti dulu.
Aku menatap pintu yang setengah terbuka, dan untuk sesaat, aku merasa ada yang berdiri di sana bayangan hitam, diam, menatap ke arahku.
Angin berhenti.
Permukaanku bergetar ringan.
Aku tahu napas itu. Aku mengenal langkah itu.
Dan sebelum sosok itu menghilang lagi dalam gelap, aku sempat berpikir: mungkin ia kembali bukan untuk melarikan diri, tapi untuk memastikan.
Bahwa tak ada yang tahu.
Bahwa aku, saksi satu-satunya, tak akan pernah bicara.
Sekarang sudah tiga tahun berlalu.
Warung ini masih ada, menatap lalu lalang para pengendara. Kadang ada wartawan datang memotret, menulis berita lama yang mereka sebut “belum terungkap.”
Mereka tak tahu aku masih di sini, terkubur separuh di tanah, retak, tapi masih menyimpan sisa kopi hitam di dasarku.
Setiap kali angin berhembus, aku mencium kembali bau malam itu bau logam, bau tanah, dan bau takut yang tak pernah benar-benar pergi.
Karena di kampung ini, waktu mungkin berjalan pelan, tapi ingatan tak pernah mati.
Dan di antara bayang-bayang yang lewat,
aku tahu satu hal yang tak pernah berubah:
pembunuhnya masih berkeliaran.





