Karena Semua Dimulai Dengan Dibaca

BACA

Saturday, 19 October 2024

21:59

Kabar Dari Laut


 

Di tubuhku ada luka sekarang,

bertambah lebar juga, mengeluar darah,

di bekas dulu kau cium napsu dan garang;

lagi aku pun sangat lemah serta menyerah. CA 1946


Anggit menatap lautan kelam dari atas anjungan perahu kayu kecil dengan mesin  tempel yang mereka tumpangi. Ombak yang meninggi, bukan yang mengganggu pikirannya.

“Laut ini, Git, makin lama makin buas,” gumam Arba sambil menatap garis horizon yang tak jelas dalam hujan yang menampar wajah-wajah empat orang di atas perahu itu.

“Tapi yang lebih buas lagi, hidup kita di darat.”

Anggit tersenyum tipis. “Memang, Ba. Laut kita lawan dengan tangan. Tapi pemilik perahu, penguasa, mereka itu tak bisa kita lawan dengan tangan kosong.”

Sudah sejak zaman dahulu, nenek moyang mereka di Banten ini hidup dalam tekanan mulai dari penindasan hingga kemiskinan. Mereka adalah rakyat kecil, nelayan miskin di pesisir selatan Banten, yang sejarahnya penuh penderitaan.

Anggit ingat cerita kakeknya tentang masa-masa ketika leluhur mereka diperas habis-habisan oleh penjajah dan penguasa lokal, seperti yang ditulis oleh Multatuli dalam Max Havelaar. Hasil bumi dan laut rakyat dikuras untuk kepentingan segelintir orang, sementara rakyat hanya mendapat sisa. Kini, penjajah mungkin sudah pergi, tapi penderitaan tetap ada—hanya wujudnya yang berupa beda.

“Zaman sudah merdeka,” kata Acil, yang duduk di geladak perahu sambil memeriksa jaring.

“Tapi kita seperti masih dijajah. Bedanya, sekarang yang menjajah bukan orang Belanda, tapi orang-orang kita sendiri.”

“Pemimpin daerah kita sibuk dengan keluarganya sendiri,” sambung Masita. “Dinasti politik yang cuma memperkaya diri mereka. Tuan perahu itu teman dekat bupati, tak ada yang berani melawan. Kalau kita tidak bisa bayar utang, kita tak boleh berlayar, kita bisa mati kelaparan.”

Anggit mengangguk, mendengarkan sambil tetap fokus pada lautan di depan.

“Aku tahu. Mereka tidak peduli sama kita. Mereka cuma mau duit. Kalau bukan karena kita punya utang, aku tidak akan memaksa kalian melaut dengan bensin secekak ini.”

Arba menatap Anggit dengan tatapan penuh pengertian.

“Kita tidak nyalahin kamu, Git. Kita semua tahu, kamu melaut bukan buat diri sendiri. Kamu punya Aisyah dan anakmu untuk dihidupi. Sama seperti kita semua, kita melaut buat keluarga kita. Orang harus tetap makan mau itu musim laut tenang maupun musim ombak besar seperti ini. Yang salah adalah mereka yang di atas sana, mereka harusnya mencari solusi bagaimana kita tidak perlu melaut di musim angin kencang seperti ini, tapi keluarga kita tetap bisa makan dan hidup. Mereka duduk nyaman di kursi empuk, sementara kita mati di laut. Sama seperti leluhur kita dulu mati di sawah dan tambak untuk para penguasa.”

Anggit terdiam. Kata-kata Arba benar. Sejarah penderitaan rakyat Banten ini panjang dan diwariskan. Bahkan setelah zaman kolonial berlalu, mereka tetap tertindas—bukan lagi oleh orang asing, tapi oleh penguasa dari bangsa mereka sendiri.

Para pemimpin daerah lebih peduli pada dinasti politik mereka, pada kroni-kroni mereka yang selalu mendapat proyek, pada kekayaan pribadi yang tak pernah cukup, sementara rakyat kecil seperti Anggit dan teman-temannya hanya menjadi angka dalam statistik kemiskinan yang tak pernah benar-benar diatasi.

“Kadang aku mikir,” Anggit mulai berbicara lagi, “buat apa kita hidup begini? Terus-terusan melawan ombak, melawan kemiskinan, melawan orang-orang yang tak pernah peduli sama kita. Padahal kita hanya minta bisa hidup layak. Kita tidak minta istana, cuma minta bisa makan, bisa menyekolahkan anak-anak kita. Tapi kenapa, untuk hidup layak saja, kita harus taruhan nyawa?”

Di rumah, Aisyah duduk di hilir mudik rumah ke dermaga, memeluk anaknya yang tertidur pulas lalu duduk termangu menatap hamparan laut nun jauh dan perahu-perahu kayu, tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut. Terombang-ambing ombak Samudera Hindia yang semakin buas.

Malam itu terlalu sepi. Anggit belum juga pulang, Aisyah dipenuhi kecemasan.

“Aku takut, Mak,” katanya pada Mak Iti tetangga yang datang menemaninya.

“Anggit belum pulang, padahal bensin yang dia bawa tidak cukup buat jauh. Mereka dipaksa berlayar dengan perahu yang sudah tua, bensinnya sedikit. Tapi kalau mereka tidak melaut, kita tidak bisa bayar utang perahu. Tuan perahu itu… dia tidak peduli sama kita.”

Mak Iti menghela napas panjang. “Begitulah hidup kita di sini, Sya. Sejak dulu sampai sekarang, rakyat kecil seperti kita selalu jadi korban. Waktu Belanda masih ada, kita diperas untuk kekayaan mereka. Sekarang, penguasa lokal kita sendiri yang menguras tenaga kita. Bupati, gubernur, semua lebih peduli sama keluarganya sendiri. Siapa yang bisa lawan? Kita ini siapa?”

Aisyah menunduk, air matanya mulai menggenang dari pipinya yang tersisa bekas luka sayat yang sudah lama mengering dan menyisakan bopeng.

“Aku dulu lari dari suami pertamaku karena dia jahat, Mak. Aku ditempeleng hampir setiap hari. Aku pikir, setelah menikah lagi dengan Anggit, hidupku akan lebih baik. Tapi ternyata… meski Anggit baik, hidup kami tetap saja keras. Setiap hari kami harus bertahan dari kekejaman yang tak kasat mata—dari utang yang menjerat, dari pemilik perahu yang serakah, dan dari laut yang semakin buas.”

Mak Iti mengangguk. “Kamu benar, Sya. Penguasa di sini cuma peduli sama kroninya, sama siapa yang bisa kasih keuntungan buat mereka. Sementara kita—rakyat kecil yang cuma bisa berharap pada laut—selalu dibiarkan sendirian menghadapi maut.”

Lima hari setelah Anggit dan teman-temannya melaut, kabar buruk datang. Jenazah Anggit dan Arba ditemukan terombang-ambing di laut, jauh dari perairan Banten, terdampar di Yogyakarta. Acil dan Masita selamat, tapi mereka hanya bisa berenang setelah perahu kehabisan bensin dan terseret arus.

Di pemakaman, Aisyah berdiri kaku di depan makam suaminya. Ia menangis sampai tak lagi bisa mengeluarkan air mata. 

Sunday, 29 April 2018

05:42

TAKUT


DEMI memperoleh kebahagiaan, kita diajarkan untuk selalu bersikap positif terhadap kehidupan… dan bersyukur adalah salah satu cara utamanya. Namun banyak dari kita yang justru terjebak dalam kesombongan dan ketakutan. Rasa syukur yang semestinya murni, tulus, dan meringankan batin malah membuat kita tanpa sadar menjadi lebih picik lagi pamrih akan banyak hal. Menjadi tak sebaik yang kita kira.

Secara sederhana, rasa syukur kita maknai sebagai sikap berterima kasih yang bernuansa spiritual. Karena ekspresi bersyukur identik dengan kondisi-kondisi dalam kehidupan kita saat ini; berkah serta anugerah; maupun hal-hal yang dirasa terlampau besar untuk diberikan atau dilakukan oleh sesama manusia. Itu sebabnya, rasa syukur diekspresikan kepada tuhan, dewata, atau pun alam semesta. Tergantung keyakinan masing-masing. Sialnya, rasa syukur selalu diremukan oleh takut yang ber-ke-takut-an. Contoh; ketika kita mendapatkan kekasih yang selama ini memang terus ditunggu dan dicarai hadirnya, rasa takut selalu berbanding lurus dengan rasa syukur. Sesuatu yang terjadi memang selalu punya dua sisi.

Hidup memang penuh dengan pilihan, seperti juga memilih dengan siapa kita menghabiskan waktu. Terutama waktu luang yang keberadaannya sangat berharga, karena itulah saat kita benar-benar menjadi diri kita sendiri, lepas dari kungkungan pekerjaan, itulah hal yang kita syukuri dengan konsekuensi kita harus siap takut kala kita sedang berjalan sendiri.

Beberapa waktu lalu, seseorang berkata kepada Saya, jangan pernah mempermasalahkan masa lalu orang yang sedang didekati. Biarkan masa lalu itu menjadi pembentuk dirinya yang sekarang, yang sedang kita hadapi.

Toh yang kita punya dengan orang ini adalah masa sekarang, saat kita sedang menghabiskan waktu dengannya, dan syukur-syukur masa depan, saat kita menghabiskan hari tua dengannya, yang terpenting adalah; jangan bawa seseorang dari masa lalu itu ke kehidupan sekarang. Jangan!😖

Yang penting adalah kualitas waktu yang dihabiskan dengan orang tersebut. Dan karena kualitas kadang datang tak tentu, maka it’s okay not to rush. Sembari dicari, dia pasti datang. Dan jangan khawatir tentang masa lalunya, karena apapun itu, semua yang terjadi di masa lalu telah membentuk dirinya seperti sekarang yang Anda lihat.

Termasuk mantan-mantannya yang telah membentuknya.

Lalu mari kita kembali bahas syukur dan Takut. Rumusnya begini; Rasa Syukur seperti tanda penjumlah (+) dalam sebuah peristiwa, sedangkan TAKUT adalah hasil (=) dari hal-hal yang ditambahkan oleh rasa syukur itu.

--
Lalu? Takut kehilangan sesuatu yang tak pernah benar-benar dimiliki.

Sudah tepat dan pantaskah kita takut, pada hal-hal yang kita takuti selama ini?

Mana yang sebenarnya lebih menakutkan, kematian, atau kehidupan itu sendiri?

Wednesday, 31 January 2018

09:32

Super Blood Moon Dan Rencana Tayang Swara Mahasiswa



Ketika Bulan berwarna merah saat gerhana, banyak orang menamakannya blood moon. Bagi Saya mendengar kata blood atau darah cukup membuat Saya bergidik. Kesan horor sangat terasa jika menyebutkan kata darah apalagi kalau sampai membayangkanya.

Saya menulis postingan ini tepat di bawah pendar cahaya merah Sang Purnama, di riuh orkestra kodok memanggil hujan, di kemelut tanya dalam batok kepala, "apakah masih ada suatu suku nun jauh entah dimana, yang mengorbankan perawan saat gerhana," aaaah rasanya tidak, "perawan sekarang langka". Mungkin, Saya tidak Tahu. Naaaah ngelanturkan. Saya skip saja pembicaraan unfaedah ini.

Jadi begini. Dalam postingan ini Saya ingin memberikan kabar gembira untuk kawan-kawan mahasiswa (atau paling tidak untuk Saya sendiri) yang suka menulis atau bercerita lewat kata, namun dalam koridor jurnalistik, sastra atau ilmiah yaaah.

Bismillahirahmanirahim, dengan ini Saya menyatakan bahwa Buletin Gerakan Literasi akan lahir kembali, tapi dengan nama dan konsep yang berbeda. Nama buletin berubah menjadi Swara Mahasiswa dan konsepnya sedikit berbeda, yaitu konsep surat kabar (koran). Lebih detail lagi Swara Mahasiswa dalam setiap muatan publikasinya lebih menekankan prinsip-prinsip jurnalistik. Dengan kata lain Saya atau Kami (Redaksi) akan menekankan prinsip-prinsip fakta lapangan dan data-data dalam setiap realeas -nya. Yang perlu digaris bawahi adalah kesan nyantai akan tetap kita tanamkan dan satu hal, bahwa tulisan yang akan ada di Swara Mahasiswa juga akan Kami posting disimj. Yaaah namanya juga belajar sambil bermain. Dan bagi kawan-kawan yang berminat untuk belajar bersama dalam hal tulis menulis bisa berkorespondensi ke surel Sastraindproject@gmail.com atau bisa nanya-nanya di akun medsos tertera.



Dan satu lagi, sekedar FYI aja, blog ini dulunya bernama Sastraind Project, blog rame-rame untuk simpan dokumentasi-dokumentasi kegiatan komunitas sastraind. Jadi jangan heran kalau postingan sebelumnya agak beda.

Oke sampai berjumpa pada postingan selanjutnya.

Salam anget
Redaksi Swara Mahasiswa/Juru Baca

Saturday, 14 May 2016

10:33

SASTRAIND PROJECT

Mari bergabung dalam project "KAMI SEORANG PERASA"
Project ini untuk membantu adik-adik kita di Rumah Belajar Bambu Pelangi - Bintaro. Hasil donasi akan kami salurkan dalam bentuk meja belajar dan keperluan untuk Rumah Belajar Bambu Pelangi.

Bila ingin berpartisipasi bisa mendonasikan ke nomor rekening : 
BCA - 8010213682 a/n Mayank Alvionita Ningrum
Mandiri - 157 00 0225594 2 a/n Berliana
Atau dengan cara membeli T-Shirt keren SastraInd (70k). Acara ini diselenggarakan pada tanggal 19 Juni 2016, sekaligus peluncuran buku Antologi Cerpen "Menulis Untuk Kemanusiaan". Untuk lebih lengkap bisa menghubungi WA :
0878 0818 4761 (Erwin)
0838 1983 6582 (Ayu)

Terima kasih

10:23

Rumah Belajar Bambu Pelangi

Rumah Belajar Bambu Pelangi

Rumah belajar yang terletak di pemukiman pemulung bintaro persisnya di belakang kampus STAN.
Mahasiswa STAN aktif melakukan kegiatan belajar mengajar di Bambu Pelangi, -+ ada sekitar 70 mahasiswa, sedangkan anak-anak yang aktif belajar di sini mencapai 50 orang, dan mereka merupakan anak-anak yang tinggal di pemukiman pemulung.

Minggu lalu SastraInd datang mengunjungi Rumah Belajar Bambu Pelangi untuk mengetahui seperti apakah kegiatan belajar mengajar di sana. kegiatan yang rutin dilakukan adalah mengulang materi pelajaran yang diajarkan oleh sekolah, mengerjakan PR, dan masih banyak lagi. kegiatan belajar di Bambu Pelangi rutin diadakan pada hari Sabtu sore dan Minggu pagi.

Pada tanggal 19 Juni 2016, SastraInd akan mengadakan acara buka bersama dengan anak-anak Bambu Pelangi, sekaligus akan mengadakan launcing buku antologi cerpen "Menulis Untuk Kemanusiaan".

Terima Kasih